BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang Penelitian
Dekade terakhir ini kemajuan teknologi yang begitu pesat telah merubah hal-hal yang fundamental di berbagai bidang, termasuk ekonomi. Perdagangan dunia dan sistem informasi yang semakin terbuka mengakibatkan volume transaksi yang meningkat dengan fantastis. Transaksi dapat dilakukan secara cepat dari satu kota, negara, bahkan lintas benua tanpa harus bertatap muka terlebih dahulu. Cara yang lazim dilakukan mulai dipandang sebagai sesuatu yang konvensional dan ketinggalan jaman. Produsen berpacu memproduksi dan menjual produksinya ke belahan dunia lain dengan maksud memperoleh keuntungan bagi kelangsungan usahanya.
Tidak terkecuali di tanah air Indonesia. Iklim usaha semakin ketat, ditandai dengan persaingan menghasilkan barang yang bermutu baik dan ditunjang dengan pemasaran yang sedemikian rupa. Beberapa Repelita terakhir di Indonesia pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama dengan sasaran pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Pembangunan di bidang ekonomi yang berorientasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut telah menghasilkan konglomerasi di bidang usaha. Namun ironisnya pada saat yang sama ada kepentingan yang terasa beium secara utuh menjadi bagian dari kegiatan bidang ekonomi, yaitu aspek-aspek perlindungan konsumen.
Kepentingan konsumen pada kurun waktu tersebut seolah-olah tertinggal jauh jika dibandingkan dengan kepentingan para pelaku usaha, bahkan hak-hak konsumen termasuk menuntut ganti rugi pada saat konsumen dirugikan akibat mengkonsumsi, menggunakan atau memakai barang dan jasa untuk kebutuhannya tidak jelas peraturannya.
Konsumen kerapkali menjadi korbanx sepihak dari arus perpindahan barang ini. Pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab meraup keuntungan besar tanpa harus bertanggung jawab atas apa yang dialami konsumennya akibat mengkonsumsi barang yang dijual. Misalnya tentang mutu barang dan layanan jasa, kalangan usahawan yang tidak bertanggung jawab menempatkannya pada posisi prioritas kedua setelah keuntungan usaha. Telah banyak bukti yang terjadi di masyarakat selama bertahun-tahun tentang hal ini, sehingga menimbulkan ketimpangan baik sosiologis maupun hukum. Pada saat yang sama globalisasi dan era perdagangan bebas telah menghadang di muka. Oleh karena itu pemerintah melalui Kabinet Reformasinya telah mempersiapkan ekonomi Indonesia yang dapat tetap eksis dan kembali berkembang sejalan dengan arus globalisasi di era perdagangan bebas.
Kebijakan di bidang ekonomi pada beberapa tahun terakhir yang lebih mengutamakan tersedianya bahan pokok di masyarakat dengan harga yang terjangkau serta pemulihan ekonomi sesegera mungkin. Kondisi ekonomi serta era perdagangan bebas dan kondisi konsumen Indonesia yang masih rendah kesadarannya karena menyangkut pendidikan konsumen yang jauh tertinggal, telah melatar belakangi lahirnya undang-undang yang telah lama ditunggu-tunggu yaitu UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERUNDUNGAN KONSUMEN.
Undang-undang ini diharapkan mampu memfasilitasi masyarakat produsen dan konsumen menjadi mandiri, dengan memahami hak dan kewajiban masing-masing yang pada gilirannya akan mendorong iklim usaha yang sehat, kondusif, dan bertanggung jawab. Kondisi ini dalam jangka waktu menengah akan mendorong perekonomian nasional yang kuat, kompetitif dengan konsumen dalam negeri sebagai jaminan pasar.
Kewajiban produsen untuk memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur pada kemasan barang dan /atau jasa yang diperdagangkan haruslah diimbangi oleh tanggung jawab konsumen dalam membaca dengan teliti kebenaran label dan iklan tersebut. Upaya ini merupakan sesuatu hal yang penting untuk mendidik produsen agar mereka mengerti harus memberi apa atas imbalan yang mereka terima sekaligus mendidik konsumen untuk mengetahui mereka mendapatkan apa atas sejumlah harga yang dibayarkan. Bila posisi ini dipahami dan dilaksanakan masing-masing pihak maka sinergi produsen-konsumen dalam memberi peluang yang sehat akan terbuka luas.
PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan susu dalam kemasan disamping produk lainnya. Pada umumnya konsumen produk PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY ini adalah masyarakat luas yang meliputi semua tingkatan sosial baik lapisan masyarakat kecil, menengah, maupun lapisan masyarakat atas . Agar terciptanya suatu iklim yang sehat bagi pelaku usaha dan masyarakat umum sebagai konsumen, maka sudah seharusnya semua pihak melaksanakan apa yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul:
STUDITENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PELAKU USAHABERKAITAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN YANG DILAKSANAKANOLEHPT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRI & TRADING COMPANY
1.2. Identifikasi masalah
Kewajiban pelaku usaha merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh perusahaan. Ini berkenaan dengan pengorbanan konsumen yang dikeluarkan untuk mendapatkan kegunaan dari produk yang dihasilkan oleh pelaku usaha. Namun sejalan dengan pelaksanaan kewajiban pelaku usaha terhadap konsumen, maka perusahaan seringkali dihadapkan dengan berbagai kendala atau resiko tertentu. Berdasarkan hal tersebut maka penulis mengidentifikasi masalah-masalah yang ada sebagai berikut:
1.Bagaimana proses pelaksanaan kewajiban pelaku usaha berkaitan dengan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang dilaksanakan oleh PT. ULTRA3AYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY?
2.Kendala-kendala apa yang dihadapi PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY dalam melaksanakan kewajiban pelaku usaha berkaitan dengan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen?
3.Bagaimana tanggapan konsumen tentang pelaksanaan kewajiban pelaku usaha sesuai dengan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang dilaksanakan oleh PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY.
1.3. Maksud dan Tujuan Peneiitian
Adapun maksud dilakukannya peneiitian ini adalah untuk mendapatkan bahan-bahan dan data-data yang diperlukan dalam rangka penulisan skripsi untuk memenuhi salah satu syarat mengikuti ujian kesarjanaan jurusan Manajemen pada Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama Bandung.
Tujuan dari peneiitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan kewajiban pelaku usaha berkaitan dengan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang dilaksanakan oleh PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY.
2.Untuk mengetahui kendala-kendala apa yang dihadapi PT. ULTRAJAYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY dalam melaksanakan kewajiban pelaku usaha berkaitan dengan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 3.Untuk mengetahui tanggapan konsumen tentang pelaksanaan kewajiban pelaku usaha sesuai dengan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang dilaksanakan oleh PT. ULTRA3AYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY.
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini penulis harapkan dapat memberikan mamfaat yang besar sebagai berikut:
1 Bagi penulis sendiri Diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang pengaplikasian bidang manajemen pemasaran pada khususnya dalam society marketing juga sebagai studi banding antara pengetahuan dan teori yang didapat dari bangku perkuliahan dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.
2 Bagi perusahaan Penulis berharap hasil penelitian dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan bagi perusahaan dalam melaksanakan kewajiban pelaku usaha berkaitan dengan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
3 Bagi pihak lain Diharapkan dapat menjadi bahan sumbangan pemikiran yang dapat membantu apabtla ingin melaksanakan penelitian lebih lanjut dan menambah wawasan bagi rekan-rekan mahasiswa lain dalam hal pemasaran terutama society marketing, khususnya kewajiban pelaku usaha berkaitan dengan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
1.5. Kerangka Pemikiran
Perbaikan dan peningkatan mutu produk termasuk pelayanan pada konsumen secara terus menerus sudah menjadi suatu keharusan bagi perusahaan dalam menghadapi perkembangan dan perubahan yang terjadi di dunia secara global. Ini ditujukan agar perusahaan tetap bertahan hidup dan tetap eksis dalam persaingan yang kian berat Dengan terpuaskannya konsumen, maka jaminan untuk pembeiian kembali produk perusahaan telah diraih.
Pada umumnya konsumen terpuaskan apabila mamfaat atau kegunaan yang didapatkan sebanding bahkan lebih tinggi dari pengorbanan berupa harga yang telah dibayarkan. Terlebih bagi perusahaan yang bergerak di bidang jasa khususnya jasa pendistribusian bahan pokok dimana kepuasan konsumen harus tetap senantjasa dijaga. Perbaikan dan peningkatan terhadap layanan jasa yang sudah ada dapat dilakukan dengan memperbaiki dan meningkatan mutu pelayanan. Kewajiban pelaku usaha terhadap konsumennya harus dilaksanakan dengan benar sesuai dengan regulasi yang berlaku
Dibawah ini adalah apa yang dimaksud dengan perlindungan konsumen, konsumen, pelaku usaha, barang, dan jasa yang dijelaskan pada Pasal 1 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen : 1.Perlindungan Konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen. 2.Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, 3.Pelaku Usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi. 4.Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimamfaatkan oleh konsumen.
5. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimamfaatkan oleh konsumen.
Permintaan terhadap layanan jasa yang stabil dan cendrung meningkat adalah salah satu alasan mengapa perusahaan jasa distribusi harus melaksanakan apa yang menjadi kewajibannya dengan baik. Pasal 7 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Periindungan Konsumen yang menjelaskankan apa yang menjadi kewajiban pelaku usaha, diantaranya:
a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
b. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan /atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan, dan pemeliharaan;
c. memperiakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; (penjelasan : pelaku usaha dilarang membeda-bedakan konsumen dalam memberikan pelayanan. Pelaku usaha dilarang membeda-bedakan mutu pelayanan kepada konsumen.)
d. menjamin mutu barang dan /atau jasa yang diproduksi dan /atau jasa diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku;
e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan /atau mencoba barang dan /atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan /atau garansi atas barang yang dibuat dan /atau yang diperdagangkan; (penjelasan : yang dimaksud dengan barang dan/atau jasa tertentu adalah barang yang dapat diuji atau dicoba tanpa mengakibatkan kerusakan atau kerugian.)
f. memberi kompensasi , ganti rugi dan /atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan , pemakaian dan pemamfaatan barang dan /atau jasa yang diperdagangkan;
g. memberi kompensasi ganti rugi dan /atau penggantian apabiia barang dan /atau jasa yang diterima atau dimamfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpuian bahwa kewajiban konsumen mencakup pemberian informasi dan penggunaan barang/jasa, pelayanan konsumen, penjaminan mutu barang yang sesuai dengan strandar yang berlaku, pemberian kesempatan kepada konsumen untuk mencoba barang, dan penyediaan garansi atau jaminan atas barang yang dibuat atau diperdagangkan. Disamping itu produsen juga harus memberikan kompensasi atau ganti rugi akibat kerugian yang disebabkan pemakaian dan barang yang tidak sesuai dengan perjanjian.
Mengingat masih kurangnya kesadaran produsen tentang kewajiban konsumen ini dan peraturan yang masih tergolong baru menyebabkan tahapan atau proses pelaksanaan kewajiban konsumen di Indonesia dirasakan belum terlaksana secara baik. Masih banyak perusahaan penghasil barang atau jasa yang belum melakukan kewajibannya sesuai dengan regulasi yang berlaku khususnya Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
1.6. Objek dan Waktu Penelitian
1.6.1. Objek Penelitian
Penelitian ini memilih objek di salah satu perusahaan pengolahan susu dalam kemasan, tepatnya pada PT. ULTRA3AYA MILK INDUSTRY & TRADING COMPANY yang beralamat di Jl. Raya Cimareme 131 Padalarang 40552, Kab. Bandung.
1.6.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan oleh penulis mulai dari 1 Oktober 2002 sampai dengan 30 Desember 2002.
STUDI TENTANG PELAKSANAAN KEWAJIBAN PELAKU USAHA BERKAITAN DENGAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERUNDUNGAN KONSUMEN
07:24 at 07:24Posted in Manajemen | 0 comments »
PENERAPAN ATURAN ETIKA UNTUK MENINGKATKAN PROFESIONALISME AKUNTAN PUBLIK (Survei pada Kantor Akuntan Publik di Bandung)
07:11 at 07:11BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Terjadinya krisis multi dimensi di Indonesia menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya etika untuk dilaksanakan. Etika menjadi kebutuhan penting bagi semua profesi yang ada agar tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari hukum. Salah satunya adalah profesi akuntan yang dituntut untuk berperilaku etis dan juga untuk menjadi Information Professional, yang tidak hanya bertindak sesuai dengan moral dan nilai-nilai yang berlaku akan tetapi juga menghasilkan "informasi" yang berguna bagi pengambil keputusan. Dalam hal ini akuntan publik harus dapat menunjukkan bahwa jasa audit yang diberikan adalah berkualitas dan dapat dipercaya, karena profesi akuntan publik memiliki peran penting untuk memberikan informasi (financial maupun non financial) yang dapat diandalkan, dipercaya, dan memenuhi kebutuhan pengguna jasa akuntan publik dalam dunia usaha yang semakin kompetitif.
Akuntan publik akan raengaudit laporan keuangan yang diterbitkan oleh pemsahaan untuk menentukan kewajarannya. Laporan keuangan yang telah diaudit ini akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan seperti, Bapepam, investor, bank, kreditor, pemerintah, karyawan, dan manajemen perusahaan itu sendiri.
Informasi-informasi yang dihasilkan oleh akuntan publik akan berguna jika akuntan pulik mampu mengendalikan mutu pemeriksaan, bertindak profesional, dan memberikan jasa yang terbaik bagi kliennya. Oleh karena itu, akuntan publik hams menaati standar profesional, yaitu Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik, dan menghayati serta mengamalkan kode etik profesional dalam setiap penugasan audit atau jasa lainnya. Dengan demikian, akuntan publik dapat memberikan jasa yang berkualitas, mendapat kepercayaan publik, dan dapat memenuhi komitmen profesionalnya. Agar akuntan pubiik dapat memenuhi tanggungjawab profesional kepada masyarakat, klien, rekan seprofesi maupun dalam menghadapi persaingan ketat dalam era globalisasi, akuntan publik haras melakukan upaya untuk mempertahankan kualitas penugasan audit dengan meningkatkan profesionalisme kompartemen akuntan publik.
Akuntan publik adalah suatu profesi yang saat ini dihadapkan pada suatu lingkungan yang benar-benar baru. Kondisi lingkungan dan dunia usaha saat ini sudah dan akan berubah. Pada bulan Januari 1992 sebelum krisis ekonomi terjadi, dalam sidang KTT-IV ASEAN (Association South East of Asian Nation) di Singapura telah disepakati untuk mengefektifkan AFTA (ASEAN Free Trade Area) pada tahun 2003 dan diramalkan tahun 2020 sebagai era kebangkitan Asia baru, yang merupakan salah satu pusat kegiatan dunia. Jasa akuntan publik termasuk salah satu yang disepakati. Artinya, pada saatnya nanti, akuntan publik dari negara-negara ASEAN dapat melakukan usaha sendiri di negara kita dan begitu pula akuntan publik Indonesia dapat melakukan profesi akuntan publiknya di negara-negara ASEAN.
Saat ini akuntan publik asing pada kenyataannya lebih dipercaya daripada akuntan publik lokal. Salah satu parameter yang dapat diambil adalah digunakannya akuntan publik asing dalam melakukan audit atas kasus-kasus penting, seperti skandal Bank Bali, Pertamina, PLN, Bulog, Bank Lippo, Kimia Farma. Hal yang paling tidak mengenakkan adalah adanya tudingan dari beberapa kalangan bahwa yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi ini adalah profesi akuntan publik. Dengan kata lain, akuntan publik adalah orang yang paling bertanggungjawab sehingga terjadinya krisis ekonomi ini. Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang sangat berat. Namun, inti permasalahannya adalah telah hilangnya atau setidaknya telah berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap akuntan publik lokal.
Dengan sejumlah peluang yang ada, profesi akuntan publik dihadapkan pada sejumlah tantangan yang harus dijawab dengan nyata dan sedini mungkin. Banyak pihak mengkhawatirkan bahkan memandang dengan sangat pesimis tentang keberhasilan akuntan lokal untuk bersaing dengan akuntan asing pada mas perdagangan bebas. Kekhawatiran ini apabita dikaji ulang memang sangat beralasan bila dilihat dari berbagai sudut, antara lain : profesionalisme akuntan publik, knowledge atau ilmu pengetahuan di bidang akuntansi, pelaksanaan kode etik atau aturan etika yang berlaku, dan keahlian.
Saat ini profesionalisme akuntan publik memang banyak dipertanyakan oleh berbagai pihak, apalagi setelah krisis ekonomi melanda Indonesia sehingga akuntan publik perlu menunjukkan bahwa dirinya adalah akuntan publik yang profesional. Melihat kondisi scperti ini, penulis tertarik untuk melakukan suatu survei dengan pengambilan pokok bahasan: "Penerapan Aturan Etika untuk Meningkatkan Profesionalisme Akuntan Publik" Survei pada kantor akuntan publik di Bandung.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah dikemukakan di atas, penulis mengidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut: 1.Bagaimana akuntan publik menerapkan aturan etikanya? 2.Bagaimana akuntan publik menerapkan profesionalismenya? 3.Seberapa besar pengaruh penerapan aturan etika untuk meningkatkan profesionalisme akuntan publik di Bandung ?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud penelitian ini adalah untuk mendapatkan jawaban atas masalah yang diteliti. Dengan data yang diperoleh dari survei pada kantor akuntan publik di Bandung, penulis melakukan penelitian bertujuan untuk: 1.Mengetahui akuntan publik menerapkan aturan etikanya. 2.Mengetahui akuntan publik menerapkan profesionalismenya. 3.Mengetahui besamya pengaruh penerapan aturan etika untuk meningkatkan profesionalisme akuntan publik di Bandung.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian atas pcnerapan aturan etika untuk meningkatkan profesionalisme akuntan publik di Bandung diharapkan dapat berguna bagi semua pihak yang bericq>entingan dan di samping itu, penelitian dapat mcmberi manfaat:
1. Bagi kantor akuntan publik, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu masukan yang bermanfaat untuk mengetahui kekurangan, kelemahan, dan kendala yang dihadapi dalam meningkatkan profesionalisme akuntan publik.
Dengan demikian, diharapkan kantor akuntan publik dapat memperbaiki segala kekurangan dan kelemahannya akan mampu memenuhi tanggungjawab jabatannya kepada kliennya dan memperoleh kepercayaan dari publik.
2.Bagi masyarakat khususnya di lingkungan perguruan tinggi, memberikan tambahan pengetahuan untuk memperluas pandangan atau wawasan mengenai "aturan etika" baik secara teori maupun praktek dan untuk menambahkan wawasan mengenai aturan etika baru berlaku dan pengetahuan terapan, serta memberikan informasi dan gambaran yang lebih jelas bagi peneliti lain yang ada hubungannya dengan penulisan makalah ini. 3.Bagi penulis, dapat diterapkannya dalam praktek mengenai aturan etika yang selama ini diterima dari teori dan diharapkan dapat berguna untuk menambah pengetahuan dan wawasan terutama mengenai penerapan aturan etika oleh akuntan publik lokal, penyebab kantor akuntan publik kurang diminati, dan upaya-upaya akuntan publik di dalam mengingkatkan profesionalisme akuntan publik dan sebagai salah satu syarat dalam menempuh ujian akhir sarjana (program SI) jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi di Universitas Widyatama.
1.5 Kerangka Pemikiran
Kita sekarang sedang mengarungi abad XXI, suatu abad yang diawali dengan globalisasi ekonomi dan jasa yang melanda semua negara di dunia. Perubahan dalam lingkungan bisnis telah menyebabkan perluasan (expansions) dan perubahan (change) muatan pengetahuan (knowledge content) yang diperlukan oleh seorang professional untuk dapat berfungsi secara efektif. Proses perubahan lingkungan yang cepat di masa yang akan datang diperkirakan akan menuntut perluasan dan perubahan muatan pengetahuan seorang profesional masa depan. Meningkatnya tuntutan tersebut merupakan tantangan yang akan dihadapi oleh profesi akuntan publik dalam memberikan jasa yang bermutu tinggi secara konsisten untuk kepentingan masyarakat bisnis dan keuangan di masa yang akan datang.
Kelangsungan hidup profesi akuntan publik sangat bergantung kepada kepercayaan masyarakat, oleh karena itu masyarakat akan menghargai organisasi profesi yang menetapkan standar kualitas yang tinggi dalam memberikan jasanya kepada masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadap kualitas jasa profesional akan meningkat jika organisasi profesi mampu mewujudkan profesionalisme yang tinggi. Bagi profesi akuntan publik, penting untuk menyakinkan pemakai atas kualitas jasa audit dan jasa atestasi lainnya.
Lingkungan yang dilayani oleh profesi akuntan publik telah berubah dengan tingkat perubahan dan perkembangan yang sangat pesat. Globalisasi telah menimbulkan ancaman sekaligus kesempatan bagi profesi akuntan publik. Ancaman masuknya profesi akuntan publik asing ke Indonesia menjadi terwujud dengan ditandatanganinya perjanjian GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) dalam tahun 1994 yang lalu. Globalisasi menajamkan persaingan produk dan jasa di pasar. Profesi akuntan publik dalam waktu dekat akan bersaing di pasar Indonesia berdasarkan mutu dan jenis jasa yang dapat memenuhi kebutuhan pemakai informasi keuangan. Kondisi ini dapat menimbulkan kesempatan untuk meningkatkan mutu, profesionalisme dan jenis jasa profesi akuntan publik, agar mampu memenuhi kebutuhan pemakai informasi keuangan yang semakin meningkat dan senantiasa berubah dengan tingkat perubahan yang sangat pesat. Globalisasi mengakibatkan profesi akuntan publik semakin banyak dituntut untuk selalu mengembangkan diri dan tanggap terhadap kebutuhan jasa para klien yang semakin kompleks.
Alasan yang mendasari diperlukannya perilaku profesional yang tinggi pada setiap profesi akuntan publik adalah kebutuhan akan kepercayaan publik terhadap kualitas yang diberikan profesi akuntan publik. Di tahun-tahun terakhir, peningkatan persaingan membuat para akuntan publik dan profesi lainnya menjadi lebih sulit untuk berperilaku secara profesional. Meningkatnya persaingan membuat banyak kantor akuntan lebih berkepentingan untuk mempertahankan klien dan laba yang besar.
Penting bagi para petnakai laporan untuk memandang kantor akuntan publik sebagai pihak yang kompeten dan tidak memihak. Jika pemakai merasa bahwa kantor akuntan publik tidak memberi jasa yang berharga, nilai audit kantor akuntan publik dan laporan atestasi dari kantor akuntan publik tersebut akan berkurang. Oleh karena itu, harus ada dorongan yang kuat bagi kantor yif^mtyn publik untuk memilliki profesionalisme yang tinggi.
Menurut Areas, dkk (2003,78) istilah profesional berarti tanggungjawab untuk berperilaku yang lebih dari sekedar memenuhi tanggungjawab yang dibebankan kepadanya dan lebih dari sekedar mematubi undang-undang dan peraturan masyarakat. Sebagai profesional, akuntan publik mengakui tanggungjawab terhadap masyarakat, terhadap klien, dan terhadap rekan seprofesi, termasuk untuk berperilaku terhormat, sekalipun ini berarti pengorbanan pribadi.
Profesional berarti juga adalah seseorang yang mampu mengenal lingkungan, bisnis dan mampu memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang sesuai dengan profcsinya. Akuntan publik yang profesional adalah orang yang memiliki pendidikan dan pengalaman berpraktik sebagai auditor independen.
Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No: 423/KMK.06/2002 tentang Jasa Akuntan Publik menetapkan dalam bab V pasal 24 mengenai pembinaan akuntan publik; akuntan publik di dalam melaksanakan tugasnya wajib berpedoman pada SPAP (Standar Profesional Akuntan Publik), Kode Etik Akuntan Indonesia, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pengertian Kode Etik Profesional menurut Chasin, dkk (1988, 4-6) didefinisittan bahwa: "Kode etik profesional adalah penuntun bagi perilaku akuntan dalam memenuhi kewajiban profesional dan dalam melaksanakan kegiatannya, yang mcmpengaruhi pandangan publik mengenai profcsi akuntan".
Berdasarkan uraian terscbut, dapat disimpulkan bahwa kode etik profesional adalah pemyataan-pernyataan yang berotorisasi yang digunakan sebagai pedoman pcrilaku dalam melaksanakan tanggungjawab profesional.
Etika profesi beikaitan dengan independensi, disiplin pribadi, dan integritas moral orang yang profesional. Kode etik mempengaruhi profesi, ketentuan ini dikenakan oleh organisasi profesi terhadap para anggotanya yang dengan sukarela telah menerimanya lebih keras dari hukum atau undang-undang. Seseorang yang masuk profesi akuntan harus menerima kewajiban, bahwa ia akan memegang teguh prinsip-prinsip, bekerja dengan selalu berusaha untuk meningkatkan pengetahuan sesuai dengan profesinya, dan akan mematuhi kode etik profesi, serta norma-norma auditing. Kode etik akuntan merupakan bagian yang penting dari peraturan disiplin yang menyeluruh agar semua pihak yang berkepentingan pada jasa akuntan publik dapat dilindungi terhadap segala perbuatan akuntan secara individual yang tercela dan tidak bertanggungjawab.
Hasil final sesuai dengan Rapat Anggota Luar Biasa tanggal 5 Mei 2000 mengenai Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang disahkan tanggal 24 Juli 2000, terdapat delapan prinsip etika yaitu: Tanggung Jawab Profesi; Kepentingan Umum (publik); Integritas; Objektivitas; Kompetensi dan Kehati-hatian Profesional; Kerahasian; Perilaku Profesional; dan Standar Teknis. Di sini juga memuat mengenai Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang terdiri dari:
"1.100 - Independensi, IntegriU$,dan Objektivitas;
1 - Standar Umum dan Prinsip Akuntansi;
2 - Tanggung Jawab Fada Klien;
3 - Tanggung Jawab Pada Rekan;
4 - Tanggung Jawab dan Praktik Lain’.
1.5.1 Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis bahvva indikator-indikator sebagai berikut: 1.Independensi, Integritas, Objektivitas; 2.Standar Umum dan Prinsip Akuntansi; 3.Tanggung Jawab kepada Klien; 4.Tanggung Jawab kepada Rekan; 5.Tanggung Jawab dan Praktik Lain, signifikan meningkatkan profesionalisme akuntan publik.
1.5.2 Hipotesis Statistik
Hoi= Penerapan Independensi, Integritas, dan Objektivitas yang baik dan konsisten secara signifikan tidak meningkatkan profesionalisme akuntan publik. HAi= Penerapan Independensi, Integritas, dan Objektivitas yang baik dan konsisten secara signifikan meningkatkan profesionalisme akuntan publik. Ho2= Penerapan Standar Umum Prinsip Akuntansi yang baik dan konsisten secara signifikan tidak meningkatkan profesionalisme akuntan publik. HA2= Penerapan Standar Umum Prinsip Akuntansi yang baik dan konsisten secara signifikan meningkatkan profesionalisme akutan publik. Ho3= Penerapan Tanggung Jawab kepada Klien yang baik dan konsisten secara signifikan tidak meningkatkan profesionalisme akuntan publik. HA3= Penerapan Tanggung Jawab kepada Klien yang baik dan konsisten secara signifikan meningkatkan profesionalisme akuntan publik. Ho4= Penerapan Tanggung Jawab kepada Rekan yang baik dan konsisten secara signifikan tidak meningkatkan profesionalisme akuntan publik. HA4= Penerapan Tanggung Jawab kepada Rekan yang baik dan konsisten secara signifikan meningkatkan profesionalisme akuntan publik. Ho5= Penerapan Tanggung Jawab dan Praktik Lain yang baik dan konsisten secara signifikan tidak meningkatkan profesionalisme akuntan publik.
8
HA5= Penerapan Tanggung Jawab dan Praktik Lain yang baik dan konsisten secara
signifikan meningkatkan profcsionalisme akuntan publik.
1.6 Metodologi Penelitian
Dalam penyusunan skripsi ini penulis mclakukan pendckatan studi empirik dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analitik, yaitu suatu metode penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran secara sistematik dan akurat mengenai fakta, sifat, hubungan antar fenomena yang diteliti, dengan berusaha mengumpulkan, mengklasifikasikan, menyajikan serta mcnganalisis data, kemudian menarik kesimpulan dari keadaan yang ada pada kantor akuntan publik yang diteliti.
Teknik penelitian yang penulis gunakan untuk memperoleh data adalah:
1. Penelitian Lapangan {Field Research) Penelitian lapangan yaitu studi atau penelitian yang dilakukan penulis untuk mendapatkan data primer dengan menggunakan kuesioner sebagai alat bantu.
a. Observasi Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung pada objek yang sedang diteliti.
b. Kuesioner Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang berkaitan dengan objek yang sedang diteliti diserahkan kepada responden.
c. Wawancara Wawancara adalah suatu teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab dengan pejabat berwenang yang berhubungan langsung dengan masalah penelitian.
2. Penelitian Kepustakaan (Library Research) Penelitian kepustakaan yakni pencarian bahan dengan cara membaca dan mempelajari literatur berupa buku-buku, majalah, catatan kuliah maupun tugas ilmiah Jainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti. Penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder yang digunakan sebagai pedoman dan landasan teori dalam pembahasan masalah yang dihadapi.
1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk memperoleh data yang menunjang tersusunnya skripsi ini penulis melakukan survei pada kantor akuntan publik yang berlokasi di Bandung. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai dengan bulan September. Penelitian ini tidak terlepas dari beberapa keterbatasan, meskipun demikian keterbatasan tersebut diharapkan tidak akan mengurangi manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini.
Posted in Akuntansi | 0 comments »
PERANAN JOB ORDER COSTING METHOD DALAM MENETAPKAN HARGA POKOK PRODUKSI (Studi Kasus ptdt PT. Harost Irmi Bandung)
06:59 at 06:59BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Later Belakang Penelitian
Kelancaran atau keberhasilan suatu perusahaan tergantung pada kemampuan manejemen di dalam mengambil keputusan. Agar suatu operasi perusahaan dapat berjalan dengan baik, maka manajemen memerlukan informasi yang dapat dipercaya sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Dan sejalan dengan semakin berkembangnya volume perusahaan, maka manajemen semakin dituntut untuk mampu mengatasi aneka ragam masalah yang dihadapi.
Suatu manajemen yang baik tidak hanya mampu menjalankan fungsi-fungsi manajerial, tetapi dituntut untuk mampu membuahkan keputusan yang tepat. Oleh karena itu untuk mendapat keputusan yang tepat, manajer hams mampu mengukur dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang telah dijalankan di dalam organisasinya.
Semakin berkembangnya suatu perusahaan yang diiringi dengan semakin kompleksnya aktivitas yang dijalankan akan menuntut adanya pelaksanaan aktivitas yang efektif dan efisien. Hal ini mengingat karena para manajer tidak dapat lagi memonitor secara langsung aktivitas yang dijalankan oleh para bawahannya. Namun di lain pihak perusahaan hams mampu menghasilkan produk yang berkualitas baik dengan harga jual yang wajar, sehingga produk yang dihasilkan dapat bersaing dipasaran. Dalam keadaan ini perusahaan hams membuat suatu planning yang matang agar sumber daya yang dimilikinya dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu mendapatkan laba, atau jika terjadi kerugian maka diusahakan kerugian tersebut dapat ditekan seminimal mungkin.
Biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk suatu produk dapat diartikan sebagai harga pokok dari produk itu sendiri. Dalam perusahaan industri yang menghasilkan produk atas dasar pesanan, maka pengendalian produknya dapat
dilakukan dengan membandingkan antara Standard Cost dengan Actual Cost.
Prosedur akumulasi biaya yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk dalam perusahaan yang menghasilkan produk atas dasar pesanan adalah Job Order Costing Method. Sedangkan untuk mencatat biaya-biaya yang timbul diperlukan adanya kartu-kartu biaya untuk masing-masing produk yang dikenal dengan Job Order Cost Sheet (Kartu Harga pokok Pesanan). Kartu-kartu biaya ini merupakan catatan' tambahan yang dikendalikan oleh perkiraan barang dalam proses, yang harus ditangani secara cermat untuk menghindari kesalahan dalam menghitung harga pokok produksinya.
Dengan penerapan metode Job Order Costing, maka informasi yang dihasilkan mengenai perhitungan harga pokok produksi akan menjadi handal dengan adanya system akuntansi biaya yang dilaksanakan ditunjang dengan elemen system akuntansi biaya yang baik.
Menyadari pentingnya perhitungan harga pokok bagi manajemen, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian atas pembebanan unsu-unsur harga pokok kedalam setiap produk pesanan dengan menggunakan Job Order Costing Method, sehingga dapat dihitung harga pokok produk dari setiap pesanan yang dihasilkan. Adapun perusahaan yang penulis teliti merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi dan penjualan produk yang terbuat dari rotan. PT. Harost Irmi melakukan proses produksinya berdasarkan pesanan (order). Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian mengenai penerapan metode harga pokok pesanan dalam menentukan harga pokok produksi dengan mengambil judul:
PERANAN JOB ORDER COSTING METHOD DALAM MENENTUKANHARGA POKOK PRODUKSI PADA PT. HAROST IRMI BANDUNG
1.2. Identifikasi Masalah
Tujuan suatu perusahaan yaitu profit dan untuk merealisasikannya diperlukan penekanan biaya produksi seminimal mungkin, oleh karena itu diperlukan suatu metode akuntansi yang dapat menghasilkan informasi akuntansi, khususnya Akuntansi Biaya. Berdasarkan uraian masalah diatas, maka dapat diidentifikasikan pokok-pokok masalahnya yaitu sebagai berikut: 1.Apakah Job Order Costing Method telah diterapkan dengan baik oleh perusahaan? 2.Bagaimana perusahaan menetukan Harga Pokok Produksi? 3.Bagaimana peranan Job Order Costing Method dalam penetapan harga pokok produksi?
1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi maksud dan penelitian ini yaitu untuk memperoleh data dalam penyusunan skripsi, sebagai salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi jurusan Akuntansi pada Universitas Widyatama Bandung.
Sedangkan yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah: 1.Mengetahui pelaksanaan Job Order Costing Method yang telah diterapkan oleh perusahaan. 2.Untuk mengetahui dan menilai perusahaan menentukan Harga Pokok Produksi 3.Mengetahui peranan Job Order Costing Method dalam menetapkan harga pokok produksi.
1.4. Kegunaan Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian ini, maka diharapkan akan diperoleh manfaat bagi penulis sendiri maupun bagi perusahaan yang bersangkutan serta bagi para pembaca. Adapun manfaat atau kegunaan dari penelitian ini adalah : 1.Bagi penulis, hasil dari penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan dan mempraktekkan teori secara nyata khususnya untuk mengetahui secara pasti sampai sejauh mana peranan Job Order Costing Method berguna dalam menetapkan harga pokok produk atas dasar pesanan. 2.Bagi perusahaan, hasil penelitian ini berguna sebagai input berupa informasi dalam menetapkan harga pokok produknya berdasarkan Job Order Costing Method yang diharapkan pula akan memudahkan manajemen dalam mengendalikan biaya produksi dan menetapkan harga jual di masa yang akan datang. 3.Bagi pihak-pihak lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk melakukan penelitian lebih mendalam.
1.5. Kerangka Pemikiran
Keberhasilan suatu perusahaan dalam memenuhi tujuannya (laba) sangat tergantung pada kemampuan manajemen dalam mengelola kegiatan perusahaan berdasarkan informasi yang diterimanya. Untuk menjalankan fungsinya tersebut manajemen hams mempunyai keahlian dan kemampuan dalam memanfaatkan dan mengorganisir semua sumber daya yang ada di perusahaan. Hal ini menempatkan manajemen pada posisi yang menuntut tersedianya informasi dan data yang relevan khususnya pada perusahaan industri salah satu informasi yang relevan yaitu informasi mengenai harga pokok produk di dalam menentukan harga jual produk yang bersangkutan.
Menumt Mulyadi (1993, 23) terdapat tiga unsur biaya yang membentuk harga pokok produk yaitu:
1.Biaya bahan baku langsung
2.Biaya tenaga kerja langsung
3.Biaya produk tidak langsung
Setiap perusahaan akan selalu berusaha sedapat mungkin mendapatkan laba yang sebesar-besarnya, laba yang besar dapat dicapai perusahaan apabila penghasilan yang diperoleh lebih besar dari biaya-biaya yang dikeluarkan. Salah satu pos pembiayaan dalam kegiatan Job Order Costing ini adalah biaya overhead (biaya produksi tidak langsung), peran biaya ini penting karena biaya produksi tidak langsung pembiayaan perusahaan secara keseluruhan.
Biaya produksi tidak langsung ini mencakup berbagai macam biaya dan banyak diantaaranya yang tidak dapat diramalkan serta tidak berhubungan dengan suatu kegiatan tertentu. Dalam Job Order Costing ini hams diperhatikan sekali apakah kebijaksanaan perusahaan yang dilakukan untuk menentukan dan atau memperhitungkan biaya produksi tidak langsung tepat karena biaya produksi tidak langsung besar pengaruhnya dalam rangka pembentukan harga pokok pesanan.
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas penulis mengemukakan hipotesis sebagai barikut:
"Job Order Costing yang diterapkan dengan memadai akan menghasilkan Harga Pokok Produksi yang akurat".
1.6. Metode penelitian
Metode penelitian yang dugunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah metode Deskriptif Analisis, yaitu metode yang memusatkan masalah yang ada pada saat ini dimana dalam prosesnya bukan sekedar mengumpulkan dan mengoiah data, tetapi juga menganalisa, meneliti dan menginterpretasikan serta membuat kesimpulan dan memberi saran yang kemudian disusun pembahasannya secara sistematis sehingga dapat dipahami masalahnya. Untuk menunjang metode diatas, pada penelitian ini penulis menggunakan dua jenis data yaitu :
1. Data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian. Untuk mendapatkan data primer, penulis melaksanakan studi lapangan yaitu mengadakan peninjauan langsung ke tempat pelaksanaan kerja yaitu PT. HAROST IRMI Bandung dengan cara:
a. Observasi, yaitu mengadakan penunjauan langsung ke objek penelitian pada perusahaan PT. HAROST ERMI Bandung dengan maksud untuk mendapatkan data primer.
b. Wawancara, Yaitu upaya mendapatkan informasi secara lisan yaitu dengan melakukan Tanya jawab kepada beberapa pejabat yang berwenang.
c. Dokumentasi, yaitu mencatat data-data yang diperlukan, sejarah singkat perusahaan, bidang usaha perusahaan dan data lainnya yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
2. Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dengan memanfaatkan hasil dari pihak lain atau para ahli. Untuk mendapatkan data sekunder yang berhubungan dengan penelitian, penulis melakukan studi kepustakaan yaitu dengan cara pengumpulan teori-teori dari buku kuliah, buku-buku dan literature-literatu lain yang berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti. Teori-teori ini selanjutnya digunakan sebagai dasar pembahasan masalah dalam skripsi ini. Dalam penelitian ini penulis membagi variabel-variabelnya menjadi dua, yaitu yang berperan sebagai variabel bebas (independen) adalah Job Order Costing Method sedangkan yang berperan sebagai variabel terikat (dependen) adalah penentuan harga pokok produksi.
1.7. Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk mendapatkan data yang diperlukan, penulis melakukan penelitian pada PT. HAROST IRMI Bandung yang berdomisili di Jl. Sersan Bajuri No. 35 Bandung.Adapun pelaksanaan penelitian yaitu kurang lebih tiga bulan, dari tanggal 20 Maret sampai dengan 30 Juni 2003
Posted in Akuntansi | 0 comments »
PENGARUH MODAL KERJA TERHADAP RENTABILITAS EKONOMI PADA PT-PG RAJAWALI II UNIT PGTB
06:49 at 06:49BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah sekarang ini tidak lain bertujuan untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, antara lain diwujudkan melalui kebijakan deregulasi diberbagai bidang usaha.
Dalam era deregulasi ini, pemerintah mengurangi campur tangan secara langsung dalam mengatur dan mengendalikan perekonomian, sifat dan dinamika dunia usaha bersumber pada inisiatif dan kreativitas dunia usaha sendiri. Peranan mekanisme pasar di dalam kegiatan ekonomi semakin besar, sehingga kalangan dunia usaha dituntut untuk berpacu dalam memenangkan pasar melalui peningkatan efisiensi dan produktivitas.
Untuk mewujudkan semua tuntutan tersebut diperlukan suatu prinsip pengelolaan yang efektif dan efisiensi serta produktif terhadap semua bagian yang ada di perusahaan. Serta ditunjang oleh suatu tindakan pengendalian yang efektif untuk mencegah timbulnya penyimpangan yang mengganggu terhadap kinerja perusahaan.
Efisiensi operasi perusahaan akan berperanan penting terhadap keberhasilan perusahaan dengan adanya laju pertumbuhan penjualan yang meningkat. Peningkatan laju pertumbuhan penjualan membutuhkan adanya penambahan pembiayaan, baik pembiayaan dalam aktiva lancar maupun aktiva tetap. Pembiayaan dalam aktiva lancar memiliki sifat mudah diuangkan dan merupakan jumlah yang besar dalam perusahaan sehingga memerlukan perhatian yang seksama dari manajer keuangan.
Pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan pembiayaan aktiva lancar memiliki hubungan yang langsung dalam perusahaan dagang. Contohnya bila dalam perusahaan terdapat peningkatan penjualan secara kredit, maka piutang dagang perusahaan akan meningkat pula. Peningkatan penjualan ini juga mempengaruhi peningkatan persediaan barang. Disisi lain, perusahaan memerlukan sumber pembiayaan dengan adanya peningkatan penjualan tersebut.
Hal diatas menghendaki pengaturan keuangan dalam aktiva lancar dan hutang lancar yang berhubungan langsung dengan volume penjualan. Oleh karena itu, dalam pengelolaannya, khususnya aktiva lancar yang terdapat dalam manajemen modal kerja adalah cara yang tepat untuk digunakan dalam meningkatkan penjualan agar perolehan laba perusahaan dapat meningkat.
Dalam upaya mewujudkan operasi perusahaan yang efisien, ukuran keberhasilan belum cukup hanya dilihat dari besarnya laba yang diperoleh, tetapi harus dilihat dari rentabilitasnya. Usaha perusahaan harus diarahkan pada pencapaian tingkat rentabilitas maksimal.
Berdasarkan alasan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian serta membahas masalah tersebut yang dituangkan dalam skripsi yang berjudul: "Pengaruh Modal Kerja terhadap Rentabilitas Ekonomi pada PT-PG Rajawali II unit PG Tersana Baru".
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian diatas, maka masalah-masalah yang diidentifikasi adalah:
1.Bagaimana perkembangan modal kerja pada PT-PG Rajawali II unit
PGTB periode 1997-2001?
2.Bagaimana perkembangan rentabilitas ekonomi PT-PG Rajawali 11 Unit
PGTB periode 1997-2001?
3.Bagaimana pengaruh modal kerja terhadap rentabilitas ekonomi pada PT-
PG Rajawali II unit PGTB periode 1997-2001?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dilakukan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dan informasi yang berhubungan dengan masalah yang sedang diteliti pada PT-PG Rajawali II unit PG Tersana Baru. Yang akan digunakan sebagai bahan dalam penyusunan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk menempuh ujian tingkat Sarjana pada Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen UniversitasWidyatama.Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk megetahui:
1.Perkembangan modal kerja pada PT-PG Rajawali II unit PG Tersana Baruperiode 1997-2001.2.Perkembangan rentabilitas ekonomi pada PT-PG Rajawali II Unit PGTBperiode 1997-2001.3.Pengaruh modal kerja terhadap rentabilitas ekonomi pada PT-PG RajawaliII unit PGTB periode 1997-2001.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian mengenai pengaruh modal kerja terhadap rentabilitas diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut:
1. Aspek Operasional
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang modal kerja dalam suatu perusahaan. Data empiris mengenai masukan tentang modal kerja dapat dijadikan sebagai input bagi perusahaan dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam penggunaan modal kerja di perusahaan yang bersangkutan. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
2 Pengembangan Ilmu
Penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan memperkaya pegetahuan di bidang keuangan khususnya menyangkut tentang modal kerja dalam suatu perusahaan.
1.5 Kerangka Pemikiran
Perkembangan dan pertumbuhan adalah sesuatu yang selalu menjadi perhatian utama bagi setiap manajemen dalam mengelola usahanya, karena selain merupakan salah satu keberhasilan bagi manajemen juga merupakan cara yang efektif dalam mempertahankan hidup perusahaan dalam lingkungan yang cepat berubah. Sehubungan dengan itu, pada umumnya setiap perusahaan telah mempersiapkan perencanaan yang sistematis untuk dapat mengarahkan dan mengendalikan sumber dayanya untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diharapkan.
Dalam kenyataan perkembangan dari pertumbuhan perusahaan dapat ditentukan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah melalui perluasan modal, baik perluasan modal kerja atau modal kerja dan modal tetap yang digunakan secara tetap dan terus-menerus di dalam perusahaan.
Pada PT-PG Rajawali II Unit PG Tersana Baru, modal kerja merupakan unsur yang berperan dalam menghasilkan pendapatan. Tingginya investasi perusahaan dalam aktiva lancar menunjukkan hal tersebut. PT-PG Rajawali II unit PG Tersana Baru harus menyediakan modal kerja untuk menjalankan kegiatan sehari-hari yang digunakan untuk membiayai kebutuhan-kebutuhannya seperti pembelian suku cadang, bahan baku barang-barang, pembayaran gaji, upah, biaya perawatan dan sebagainya.
Ketidaktepatan dalam menentukan jumlah modal kerja yang dibutuhkan akan mengakibatkan kegiatan perusahaan terganggu, dan bila hal ini berlangsung terus-menerus akan mempengaruhi kelangsungan perusahaan Dengan demikian pengelolaan aktiva lancar melalui perkembangan modal kerja merupakan salah satu aspek penting yang dibutuhkan oleh PT-PG Rajawali II unit PG Tersana Baru. Penerapan modal kerja yang tepat akan lebih mendorong pencapaian pertumbuhan dan perluasan kegiatan perusahaan.
Modal kerja mengandung dua pengertian pokok, yaitu pertama modal kerja bersih (net working capital) yang merupakan kelebihan aktiva lancar diatas hutang lancarnya. Kedua adalah modal kerja bruto (gross working capital) yang merupakan keseluruhan dari jumlah aktiva lancar.
Pada umumnya perusahaan harus dapat mempertahankan jumlah aktiva lancar yang lebih besar dibanding hutang lancarnya, hal ini agar perusahaan mempunyai kemampuan untuk membayar kebutuhan-kebutuhan jangka pendeknya. Akan tetapi dalam hubungan dengan fungsi modal kerja dalam menghasilkan pendapatan, maka perhatian selanjutnya akan terfokus pada masalah penggunaan dana atau alokasi dana daripada mendapatkan dana sehingga dengan demikian pengertian yang digunakan adalah pengertian modal kerja bruto. Aktiva lancar umumnya terdiri dari kas, efek, piutang dagang, persediaan barang dan sebagainya. Apabila tidak tepat dalam pengelolaannya akan mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan.
Hal ini dapat dilihat dari pengertian manajemen modal kerja menurut James C Van Home (1998,374) adalah sebagai berikut:
"Working capital management is usually described as involving the administration of these assets namely cash and marketable securities, receivable and inventories and administration of current liabilities"
Manajemen modal kerja meliputi semua aspek pengaturan current account perusahaan (aktiva lancar dan hutang lancar) dengan tujuan agar terjamin modal kerja bersih yang acceptable (dapat diterima) yang menjamin tingkat likuiditas badan usaha.
Disamping aspek pertimbangan likuiditas, aspek pertimbangan rentabilitas dalam manajemen modal kerja merupakan hal yang penting, karena bagaimanapun tujuan setiap kegiatan perusahaan adalah untuk memperoleh laba, dan salah satu cara untuk memperbesar memperoleh laba adalah dengan meningkatkan efisiensi penggunaan dana perusahaan melalui manajemen modal kerja.
Akan tetapi laba yang tinggi belumlah merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisien baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Hal ini dapat dilihat pada pengertian rentabilitas yang dikemukakan oleh Bambang Riyanto (2001,35) sebagai berikut: "Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba. Dengan kata lain rentabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba"
Rentabilitas ekonomi ialah perbandingan antara laba usaha dengan modal sendiri dan modal asing yang dipergunakan untuk menghasilkan laba tersebut dan dinyatakan dalam persentase. Oleh karena pengertian rentabilitas sering dipergunakan untuk mengukur efisiensi penggunaan modal didalam suatu perusahaan, maka rentabilitas ekonomi sering pula dimaksudkan sebagai kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh modal yang bekerja didalamnya untuk menghasilkan laba.
Rentabilitas dikaitkan dengan modal kerja adalah diukur dengan penjualan dikurangi biaya atau laba operasi. Laba perusahaan dapat meningkat melalui dua cara: 1.Meningkatkan pendapatan dari penjualan. 2.Menurunkan biaya-biaya.
Biaya dapat dikurangi dengan meningkatkan efisiensi pengeluaran pada pos-pos tertentu, sedangkan pendapatan dari penjualan dapat dinaikkan dengan meningkatkan investasi yang mampu menghasilkan tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Modal yang diperhitungkan untuk menghitung rentabilitas ekonomi hanyalah modal yang bekerja didalam perusahaan {operating assets capital). Dengan demikian, maka modal yang ditanam dalam perusahaan lain tidak diperhitungkan untuk menghitung rentabilitas ekonomi.
Demikian pula laba yang diperhitungkan untuk menghitung rentabilitas ekonomi hanyalah laba yang berasal dari operasi perusahaan, yaitu yang disebut laba usaha (net operating income). Dengan demikian, maka laba yang diperoleh dari usaha-usaha diluar perusahaan tidak diperhitungkan dalam menghitung rentabilitas ekonomi.
Dari uraian pemikiran tersebut diatas, penulis mengemukakan suatu hipotesis yang akan dijadikan sebagai dasar pemikiran dalam penelitian dan pengujian yang dilakukan yaitu:
“ modal kerja berpengarnh terhadap rentabilitas ekonomi".
1.6 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT-PG Rajawali II unit PG Tersana Baru, yang berlokasi di jalan Raya Babakan Gebang Cirebon. Waktu penelitian penulis dimulai 1 September sampai dengan 1 Oktober 2003.
Posted in Manajemen | 0 comments »
PERANAN MOTIVASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN KERJA KARYAWAN PADA PT.GRAND TEXTILE INDUSTRY BANDUNG
06:40 at 06:40BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya, baik perusahaan yang bergerak dibidang pabrikan maupun jasa akan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Satu hal yang harus diperhatikan bersama yaitu bahwa keberhasilan berbagai aktivitas didalam perusahaan dalam mencapai tujuan bukan hanya tergantung pada pada keunggulan teknologi, dana operasi yang tersedia, sarana ataupun prasarana yang dimiliki, malainkan juga tergantung pada aspek sumber daya manusia. Faktor sumber daya manusia ini merupakan elemen yang harus diperhatikan oleh perusahaan, terutama bila mengingat bahwa era perdagangan bebas akan segera dimulai, dimana iklim kompetisi yang dihadapi akan sangat berbeda. Hal ini memaksa setiap perusahaan harus dapat bekerja dengan lebih efisien, efektif dan produktif. Tingkat kompetisi yang tinggi ini akan memacu tiap perusahaan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam lingkungan persaingan yang tinggi yang dalam hal ini berarti perusahaan harus memberikan perhatian pada aspek sumber daya manusia. Jadi manusia dapat dipandang sebagai faktor penentu karena ditangan manusialah segala inovasi akan direalisir dalam upaya mewujudkan tujuan perusahaan.
Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang diharapkan organisasi dapat memberikan andil positif terhadap semua kegiatan perusahaan dalam mencapai tujuannya, setiap karyawan diharapkan memiliki motivasi kerja yang tinggi yang diharapkan nantinya akan meningkatkan disiplin kerja yang tinggi. Motivasi merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh pihak manajemen bila mereka menginginkan setiap karyawan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pencapaian tujuan perusahaan, karena dengan motivasi, seorang karyawan akan memiliki semangat yang tinggi dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Tanpa motivasi, seorang karyawan tidak dapat memenuhi tugasnya sesuai standar atau bahkan melampaui standar karena apa yang menjadi motif dan motivasinya dalam bekerja tidak terpenuhi. Sekalipun seorang karyawan memiliki kemampuan operasional yang baik bila tidak memiliki motivasi dalam bekerja, hasil akhir dari pekerjaannya tidak akan memuaskan.
Mengingat pentingnya motivasi, maka wujud perhatian pihak manajemen mengenai masalah motivasi karyawan dalam bekerja ialah melakukan usaha pemotivasian pada karyawan pada perusahaan melalui serangkaian usaha tertentu sesuai dengan kebijakan perusahaan, sehingga motivasi karyawan dalam bekerja akan tetap terjaga. Untuk memotivasi karyawan, pimpinan perusahaan harus mengetahui motif dan motivasi yang diinginkan opeh para karyawan. Satu hal yang harus dipahami bahwa orang mau bekerja karena mereka ingin memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan yang disadari maupun kebutuhan yang tidak disadari, berbentuk materi atau non materi, kebutuhan fisik maupun rohaniah.
Pemotivasian ini banyak macamnya seperti pemberian kompensasi yang layak dan adil, pemberian penghargaan dan sebagainya. Hal ini dimaksudkan agar apapun yang menjadi kebutuhan karyawan dapat terpenuhi lalu diharapkan para karyawan dapat berkerja dengan baik dan merasa senang dengan semua tugas yang diembannya. Setelah karyawan merasa senang dengan pekerjaannya, para karyawan akan saling menghargai hak dan kewajiban sesama karyawan sehingga terciptalah suasana kerja yang kondusif, pada akhirnya karyawan secara suka rela dan bersungguh-sungguh memberikan kemampuan terbaiknya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, dan ini berarti disiplin kerjalah yang akan ditunjukan oleh para karyawan, karena termotivasi dalam melaksanakan tugasnya dalam perusahaan.
Dalam hal ini PT. GRAND TEXTILE INDUSTRY BANDUNG, sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang Textile Industry dengan misinya yaitu membuat kain denim, sudah seharusnya memiliki karyawan yang penuh semangat dan bermotivasi tinggi dalam bekerja dan melakukan pekerjaannya secara efektif dan efisien, untuk kemudian pada akhirnya menunjukkan kedisiplinan yang tinggi dalam usaha mewujudkan misi dan tujuan yang telah ditetapkan.
Sehubungan dengan hal diatas, maka motivasi merupakan masalah yang sangat penting dalam suatu perusahaan, karena dapat meningkatkan disiplin kerja karyawan. Sehingga kemampuan manajemen dalam memberikan motivasi akan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan dalam pencapian tujuan perusahaan.
Menyadari betapa pentingnya motivasi dalam upaya meningkatkan disiplin kerja karyawan ini, maka PT. GRAND TEXTILE INDUSTRY Bandung, dengan segala keterbatasan yang dimiliki mencoba untuk melaksanakan program tersebut.
Keadaan demikian yang melatar belakangi penulis dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir yang selanjutnya penulis tangkap dalam Laporan Tugas Akhir yang berjudul :
“PERANAN MOTIVASI DALAM UPAYA MENINGKATKAN DISIPLIN KERJA KARYAWAN”
1.2 Identifikasi Masalah
Setiap perusahaan menginginkan agar karyawan mau bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku dan disiplin dalam bekerja, sehingga perusahaan dituntut untuk mampu memberikan motivasi kepada karyawannya untuk bekerja sesuai aturan dan disiplin yang dimaksud agar sesuai dengan yang diharpkan sebelumnya, tapi tidak semua perusahaan berhasil dalam melaksanakan hal tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan motivasi di perusahaan GRANDTEX ?
2. Bagaimana tingkat disiplin kerja di perusahaan GRANDTEX?
3. Seberapa besar peranan motivasi terhadap disiplin kerja diperusahaan GRANDTEX?
1.3 Maksud dan Tujuan
1.3.1 Maksud diadakannya penelitian ini adalah :
1. Untuk memperoleh, mengolah dan menganalisa data yang dibutuhkan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini sebagai salah satu syarat dalam menempuh Ujian Sidang Diploma III Jurusan Manajemen pada Universitas Widyatama.
2. Untuk mengetahui penerapan teori-teori yang pernah didapat dengan keadaan yang sebenarnya di perusahaan.
1.3.2 Tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Motivasi dalam Upaya Meningkatkan Disiplin Kerja Karyawan pada PT. GRANDTEX.
2. Untuk mengetahui bagaimana tingkat kedisiplinan pekerja pada PT. GRANDTEX.
3. Untuk mengetahui seberapa besar peranan motivasi terhadap disiplin kerja karyawan pada PT. GRANDTEX.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini adalah diharapkan :
1. Bagi PT. GRANDTEX diharapkan dapat memberikan masukan-masukan mengenai Peranan Motivasi Dalam Upaya Meningkatkan Disiplin Kerja Karyawan, sehingga terjadi pertimbangan dalam melaksanakannya.
2. Bagi penulis, yaitu dapat memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam mengenai Peranan Motivasi Dalam Upaya Meningkatkan Disiplin Kerja Karyawan dengan melihat praktiknya secara langsung.
3. Pihak lain, yaitu sebagai tambahan referensi bagi rekan-rekan yang memerlukan sumber data dalam melakukan penelitian dengan tajuk dan objek Tugas Akhir yang sama.
1.5 Kerangka Pemikiran
Untuk memperoleh pegawai yang memiliki kemampuan dan ketrampilan serta semangat kerja yang tinggi, sehingga kualitas dan kedisiplinan kerja meningkat, perlu adanya suatu upaya seorang pemimpin. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas dan kedisiplinan kerja tersebut adalah melalui pemberian motivasi.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli tentang motivasi, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri pegawai yang perlu dipenuhi agar pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Motivasi merupakan suatu proses psikologi yang mencerminkan antara sikap, kebutuhan, persepsi dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang dan motivasi merupakan sebuah proses psikologi yang timbul karena diakibatkan oleh faktor-faktor dari dalam maupun dari luar, hal ini timbul karena rangsangan atau insentif.
Menurut Ranupandojo dan Husnan, mengemukakan 10 prinsip yang harus dilakukan oleh pimpinan dalam memberikan motivasi kepada para bawahannya berupa :
1. Upah atau Gaji yang layak
2. Pemberian insentif
3. Memperhatikan rasa harga diri
4. Memenuhi kebutuhan rohani
5. Memenuhi kebutuhan berpartisipasi
6. Menempatkan pegawai pada tempat yang tepat
7. Menimbulkan rada aman dimasa depan
8. Memperhatikan lingkungan tempat kerja
9. Memperhatikan kesempatan untuk maju
10. Menciptakan persaingan yang sehat
Untuk itu motivasi dapat dikatakan sebagai suatu pemberian pengarahan, dorongan atau semangat kepada para karyawan agar mampu bekerja sesuai dengan tujuan yang diharapkan, demi tercapainya tujuan organisasi dalam suatu perusahaan dengan efektif dan efisien.
Kedisiplinan adalah fungsi operatif keenam dari Manajemen Sumber Daya Manusia. Kedisiplinan ini merupakan fungsi operatif MSDM yang terpenting, karena semakin baik disiplin karyawan, maka akan semakin tinggi prestasi kerja yang dapat dicapainya. Tanpa disiplin karyawan yang baik, sulit bagi organisasi perusahaan untuk mencapai hasil yang optimal.
Definisi disiplin kerja yang dikemukakan oleh Nitisemito (1991 : 199) adalah sebagai berikut :
Disiplin kerja adalah sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari perusahaan baik yang tertulis maupun tidak tertulis”
Disiplin kerja menurut Hani Handoko (1990 : 153) adalah sebagai berikut:
“Disiplin adalah kegiatan manajemen untuk menjalankan standar-standar organisasi”
Hani Handoko (1990 : 153-154) juga mengemukakan bahwa ada dua tipe kegiatan pendisiplinan yaitu :
1. Displin Preventif
Kegiatan yang dilaksanakan untuk mendorong para karyawannya untuk mengikuti berbagai standar dan aturan sehingga penyelewengan-penyelewengan dapat dicegah
2. Disiplin Korektif
Kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran lebih lanjut
Disiplin menurut Heri Simamora (1995 : 565) sebagai berikut :
“Bentuk pengendalian diri karyawan, dan pelaksanaan yang teratur dan menunjukkan kesungguhan tim kerja
Jadi pada dasarnya kedisiplinan kerja adalah fungsi operatif MSDM yang terpenting dan menjadi tolak ukur untuk mengukur atau mengetahui, apakah fungsi-fungsi MSDM lainnya secara keseluruhan telah dilaksanakan dengan baik atau tidak oleh perusahaan.
Untuk mengetahui seberapa jauh peranan motivasi dalam upaya meningkatkan disiplin kerja karyawan pada PT.GRANDTEX, penulis tertarik untuk melakukan penelitian pada PT. GRANDTEX dengan judul :
“Motivasi Berperan Dalam Upaya Maningkatkan Disiplin Kerja Karyawan”
1.6 Metode Tugas Akhir
Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut :
1. Studi Literatur
Tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mempelajari dan mengkaji melalui buku-buku, diktat, dan bahan-bahan bacaan lain yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dilakukan dan dijadikan pedoman atau pegangan penelitian dalam penentuan teori-teori yang berhubungan dengan objek penelitian
2. Studi lapangan
Yaitu, mengadakan penelitian langsung terhadap objek yang sedang diteliti guna mendapatkan data melalui :
a. Observasi
Adalah tehnik pengumpulan data yang berhubungan dengan objek penelitian, dimana penyusun melakukan penelitian secara langsung pada perusahaan
b. Wawancara
Yaitu, tehnik pengumpulan data dengan metode Tanya jawab secara langsung kepada pihak yang bersangkutan maupun staf dan karyawan yang ada diperusahan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan persediaan materi.
c. Kuisioner
Yaitu, dengan cara mengedarkan angket yang berisi pertanyaan mengenai masalah yang sedang dilakukan.
1.7 Lokasi dan Waktu Kerja Praktek
Dalam penulisan Laporan Tugas Akhir ini penulis melakukan penelitian pada PT. GRANDTEX jl. Ahmad Yani No.127 yang berlokasi di Bandung. Waktu yang dibutuhkan penulis untuk melakukan penelitian ini adalah kurang lebih tiga bulan
Posted in Manajemen | 0 comments »
PENGARUH PENGEMBANGAN PRODUK DALAM MENINGKATKAN HASIL PENJUALAN TELEPON UMUM PADA PT. INTI (PERSERO)
06:36 at 06:36BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dalam rangka menghadapi era globalisasi dan era persaingan baik secara nasional maupun internasional yang semakin ketat. Pihak pesaing akan selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk memenuhi keinginan konsumen. Mereka berusaha agar produknya lebih unggul dari produk pesaing.
Salah saru cara untuk menghadapi hal-hal tersebut di atas adalah dengan pengembangan produk yaitu melakukan perbaikan, penyempurnaan atau menghasilkan produk baru yang berbeda dengan produk yang telah ada. Pengembangan produk pada dasarnya adalah usaha yang dilakukan secara sadar dan berencana untuk memperbaiki produk yang sedang berjalan atau menambali jenis yang ada, juga harus mampu mengelolanya dalam menghadapi perubahan selera, teknologi dan persaingan yang semakin meningkat sehingga dapat mempertemukan keinginan pasar melalui produk karena konsumen cenderung mencari produk yang baru di pasar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, hal ini disebabkan oleh banyak faktor antara lain yaitu perubahan selera, rasa bosan terhadap produk lama, prestise, dan menginginkan produk yang mempunyai kelebihan dan keunggulan.
Pengembangan produk perlu dilakukan oleh setiap perusahaan kerena untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri dan dengan pengembangan produk dapat meningkatkan hasil penjualan apabila produk yang dikembangkan itu dapat diterima atau sesuai dengan selera konsumen. PT.INTI merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang pabrikasi dan perakitan perangkat telekomunikasi, perangkat elektronika, dan pelayanan jasa alat komunikasi, dimana pengembangan produk yang dilakukan oleh PT.INTI yaitu dengan menambah jenis produk, memperbaiki kualitas dari produk yang dihasilkan untuk menarik perhatian konsumen dan menyaingi produk lain yang sejenis. Hal ini dilaksanakan untuk tujuan memenuhi kebutuhan danh keinginan
konsumen, mempertahankan produk di pasar, memperluas pasar serta meningkatkan penjualan.
Berdasarkan hal yang telah dikemukakan di atas, maka penulis tertarik untuk menyusun skipsi dengan judul "PENGARUH PENGEMBANGAN PRODUK DALAM MENINGKATKAN HASIL PENJUALAN TELEPON UMUM PADA PT.INTI (PERSERO)".
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian maka penulis mengidentifikasikan
pokok pembahasan pada masalah: 1.Bagaimana pelaksanaan pengembangan produk yang dilakukan oleh PT.INTI ? 2.Masalah-masalah apa yang dihadapi oleh PT.INTI dalain pelaksanaan pengembangan produk ? 3.Berapa besar pengaruh pengembangan produk dalam meningkatkan hasil penjualan pada PT. INTI ?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud penelitian ini dilakukan adalah untuk memperoleh data dari bahan yang diperlukan penyusunan skipsi yang merupakan salah satu syarat dalam menempuh ujian sarjana ekonomi jurusan Manajemen di Universitas Widyatama. Sedangkan tujuan dan penelitian yang dilakukan antara lain :
1.Untuk mengetahui pelaksanaan pengembangan produk di PT.INTI.2.Untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi PT.INTI dalampelaksanaan pengembangan produk.3.Untuk mengetahui berapa besar pengaruh pengembangan produk dalammeningkatkan hasil penjualan di PT.INTI.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil yang bermanfaat sejalan dengan tujuan penelitian yang diharapkan, hasil penelitian diharapkan dapat berguna:
1.Bagi penulis, untuk menambah pengetahuan dalam pelaksanaan yang berkaitan dengan disiplin ilmu yang telah didapat, khususnya di bidang pengembangan produk. 2.Bagi perusahaan, diharapkan dapat memberi masukan-masukan sebagai bahan pertimbangan pimpinan perusahaan dalam pengambilan keputusan mengenai pengembangan produk baru dimasa mendatang. 3.Bagi pihak lain, sebagai tambahan pengetahuan dalam bidang pemasaran khususnya mengenai pengembangan produk.
1.5 Kerangka Pemikiran
Dalam menghadapi permintaan pasar yang berfluktuasi dan persaingan yang tajam, perusahaan perlu menetapkan langkah-langkah yang efektif, salah satu strategi perusahaan dalam menghadapi masalah tersebut yaitu dengan cara mengadakan pengembangan produk dan memperbaiki produknya sehingga dapat meningkatkan hasil penjualan.
Sebelum mengetahui pengertian tentang pengembangan produk kita perlu mengetahui arti dari produk itu sendiri. Pengertian produk itu sendiri, ditinjau dari sudut pandang pemasaran, yang dikemukakan oleh Philip Kotler dan Gary Armstrong(1997;274) dalam bukunya Dasar-Dasar Pemasaran yang disadur oleh Drs. Alexander Sindoro sebagai berikut:
"Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, dipergunakan, atau di konsumsi dan yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan".
Seperti definisi produk di atas, produk yang baik adalah produk yang dapat diterima untuk dikonsumsi guna memenuhi kebutuhan konsumen tetapi biasanya ada saat tertentu dimana konsumen akan merasa jenuh dengan produk yang sudah
ada dan akibatnya hasil penjualan dari produk tersebut akan mengalami penurunan.
Keberadaan pesaing yang dapat menjadi salah satu penyebab penurunan hasil penjualan, untuk itu perusahaan dituntut untuk kreatif dalam menghadapi situasi seperti di atas. Salah satu cara adalah dengan mengembangkan produk menjadi produk yang baru.
Dalam melaksanakan kegiatan pengembangan produk, haruslah melalui tahapan-tahapan tertentu yang dapat menekan resiko sekecil mungkin, hal ini disebabkan karena kegiatan pengembangan produk itu membutuhkan dana yang relatif besar. Adapun tahapan-tahapan yang dimaksud terdiri dari delapan tahapan menurut Philip Kotler(1997;277-295) dalam bukunya Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Kontrol yang disadur oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli yaitu :
1.Pemunculan Gagasan (Idea Generation) 2.Penyaringan gagasan (Screening Idea) 3.Pengembangan dan Pengujian Konsep (Concept Development And Test) 4.Strategi Pemasaran (Marketing Strategy) 5.Analisis Bisnis (Business Analysis) 6.Pengembangan Produk (Product Development) 7.Pengujian Pasar (Market Testing) 8.Komersialisasi (Commercialization). Sedangkan tahap-tahap pengembangan produk menurut William J Stanton(1996;230-232) dalam bukunya Prinsip Pemasaran yang disadur oleh Yohanes Lamarto ada enam tahap, yaitu :
1.Mewujudkan Gagasan Produk Baru
2.Menyaring dan Menilai Gagasan untuk Menentukan Mana yang Berharga untuk Dikembangkan
3.Analisis Bisnis
4.Pengembangan Produk
5.Uji Pemasaran
6.Komersialisasi
Setelah tahap-tahap pengembangan produk dilaksanakan maka produk 4 pun akan mengalarni siklus kehidupan pada waktu produk itu ada dipasaran sampai produk itu hilang dari pasaran, ia akan melewati tahap-tahap siklus kehidupannya.
Menurut Philip Kotler(1997;307-308) dalam bukunya Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Kontrol disadur oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli bahwa siklus kehidupan suatu produk ada empat tahap:
1.Tahap perkenalan (Introduction), periode pertumbuhan penjualan yang lambat karena produk baru yang baru saja diperkenalkan di masyarakat konsumen. Biaya sangat tinggi sehingga produk tidak menghasilkan laba sama sekali.
2.Tahap pertumbuhan (Growth), pasar dengan cepat menerima produk baru sehingga penjualan melonjak dan menghasilkan laba yang sangat besar.
3.Tahap kedewasaan (Maturity), periode dimana pertumbuhan penjualan mulai menurun karena produk baru sudah bisa diterima oleh sebagian pembeli potensial. Jumlah keuntungan mantap, stabil menurun yang disebabkan oleh meningkatnya biaya pemasaran untuk melawan persaingan ketat.
4.Tahap penurunan (Decline), dalam periode ini penjualan menurun dengan tajam diikuti dengan penyusutan laba.
Perusahaan harus selalu berusaha untuk mengembangkan produknya sesuai dengan selera dan keinginan konsumen sehingga dapat terus bersaing dengan perusahaan lain. Pengembangan produk tersebut dimaksudkan agar perusahaan dapat selalu memenuhi selera pasar sehingga konsumen dapat terus tertarik pada produk tersebut. Hal ini akan menguntungkan perusahaan dalam meningkatkan hasil penjualan karena tingkat penjualan merupakan suatu tolak ukur keberhasilan perusahaan untuk memuaskan pelanggannya.
Pengembangan produk merupakan keputusan yang memiliki resiko tinggi bagi perusahaan karena memerlukan biaya yang tinggi serta kemungkinan produk baru tersebut gagal aalam pemasaran. Dengan demikian usaha pengembangan
produk yang berhasil akan memberikan imbaian yang seimbang dengan resiko yang ditanggung oleh perusahaan, untuk iru perusahaan harus meminimalkan resiko kegagalan produk dengan melaksanakan tahap-tahap pengembangan produk dengan sungguh-sungguh.
Menurut Philip Kotler(1999;274) dalam bukunva Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol yang disadur oleh Hendra Teguh dan Ronny A. Rusli, mengemukakan beberapa sebab yang bisa mengakibatkan makin sulitnya keberhasilan pengembangan produk dimasa yang akan datang yaitu :
1.Kurangnya gagasan pada jenis barang tertentu.
2.Pasar yang terpecah-pecah.
3.Kendala sosial dan pemerintah
4.Mahalnya proses pengembangan produk.
5.Kurangnya modal.
6.Pendeknya rentang waktu menyelesaikan produk.
7.Pendeknya masa manfaat bagi produk yang berhasil.
Dengan adanya berbagai kendala tersebut perusahaan harus berhati-hati dalam melaksanakan pengembangan produk agar tidak terjadi kegagalan karena kegagalan dari suatu produk akan membawa pengaruh yang kurang baik bagi perusahaan dan akan menimbulkan pengaruh negatif terhadap citra produk yang sudah ada bahkan produk yang akan datang.
Dari uraian tersebut dapat dikemukakan hipotesis penelitian, yaitu : "Pengembangan produk berpengaruh positif terhadap hasil penjualan telepon umura".
1.6 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah metode deskriptif Moh.Nazir,Ph.D(1999;63), yaitu dengan membuat deskripsi, gambaran atau uraian secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta atau sifat-sifat serta menginterpretasikan hubungan antara fenomena yang diselidiki.
1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian
Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan guna penyusunan skipsi, penelitian dilakukan pada PT INTI (PERSERO) yang berlokasi di daerah Moh. Toha No. 77 Bandung. Adapun waktu penelitian dilakukan dari bulan Maret 2003 sampai bulai Juli 2003.
Posted in Manajemen | 0 comments »
HUBUNGAN PERSEPSI KONSUMEN ATAS ATRIBUT PRODUK TELKOM FLEXI DENGAN LOYALITAS DIWILAYAH BANDUNG PUSAT
06:31 at 06:31BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Dalam dasawarsa ini terdapat banyak perusahaan-perusahaan domestik yang menekuni dan berkecimpung di sektor telekomunikasi. Di Indonesia perusahaan yang bergerak di bidang telekomunikasi yang mencakup pula teknologi informasi diantaranya adalah PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk atau PT. Telkom, di mana salah satu produk barunya adalah TELKOMFlexi.
TELKOMFlexi adalah layanan jasa telekomunikasi suara dan data berbasis akses tanpa kabel dengan teknologi CDMA ( Code Division Multiple Access ) yang hemat karena biaya pemakaiannya mengacu pada tarif sambungan telepon tetap ( fixed line ). Yang dimaksud CDMA ( Code Division Multiple Access ) adalah teknologi akses jamak dimana masing-masing pelanggan menggunakan kode yang unik dalam mengakses kanal yang terdapat dalam sistem. Produk ini diluncurkan oleh PT Telkom untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menghadapi persaingan usaha di bidang telekomunikasi yang akhir-akhir ini sangat ketat terutama menghadapi operator-operator Sambungan Telepon Bergerak ( STB ).
Segmen pasar yang akan dituju oleh produk TELKOMFlexi adalah semua segmen pelanggan mulai dari pengusaha, pegawai dan mahasiswa. Sehingga di lapangan saat ini ditemukan adanya kecenderungan orang-orang yang membawa dua ponsel, satu ponsel biasa dan satu lagi TELKOMFlexi.
Merupakan suatu hal yang wajar apabila faktor biaya dan kemudahan akan membuat masyarakat terpacu untuk membeli produk TELKOMFlexi. Hal ini dapat dilihat dari minat beli masyarakat yang sangat antusias terhadap kehadiran produk. Selain Bandung, minat beli masyarakat juga terus berkembang di kota-kota lain antara lain Surabaya, Denpasar, Jakarta, Balikpapan, Batam, Medan, Palembang dan sebagainya.
Mengikuti pola pikir yang berlaku sekarang, suatu perusahaan akan terus berusaha untuk meningkatkan nilai penjualannya untuk dapat terus berkembang , mempertahankan posisinya dari ancaman para pesaing, dan juga untuk meningkatkan pendapatan.
Hal ini biasanya dicapai dengan cara meningkatkan pangsa pasar perusahaan yaitu dengan menambah jumlah konsumen. Akan tetapi, menarik konsumen baru bukanlah hal yang mudah, karena perusahaan harus melakukan upaya pemasaran yang terpadu dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada. Selain itu, upaya promosi menarik konsumen baru juga tidak murah, karena perusahaan harus mengeluarkan banyak biaya untuk iklan, biaya untuk promosi penjualan dan lain-lain.
Jadi, upaya untuk meningkatkan pendapatan dengan menambah jumlah konsumen bukanlah jalan yang terbaik karena di satu sisi perusahaan mendapatkan pertambahan penjualan sebagai akibat dari banyaknya konsumen baru yang di dapat, akan tetapi disisi lain, pertambahan konsumen tersebut membutuhkan pertambahan biaya promosi yang besar pula, sehingga pertambahan keuntungan sebenarnya yang di dapat oleh perusahaan tidaklah sebesar yang diharapkan.
Terdapat cara lain yang lebih baik guna menigkatkan pendapatan, adalah dengan meningkatkan volume penjualan perusahaan tanpa menambah jumlah konsumen yaitu dengan memanfaatkan konsumen yang sudah dimiliki sekarang. Hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan kesetiaan (loyalitas) para konsumen. Mempertahankan konsumen yang ada jauh lebih murah dari pada menarik konsumen baru, sehingga dengan mempertahankan para konsumen yang sudah ada dan merubah mereka menjadi konsumen yang setia (loyal) pada merek perusahaan, maka perusahaan akan mengalami peningkatan penjualan yang dibarengi dengan penurunan biaya promosi sehingga hasil akhirnya adalah pendapatan yang meningkat.
PT. TELKOM menyadari akan arti pentingnya loyalitas konsumen dalam upaya untuk memenangkan persaingan dalam telekomunikasi yang semakin kompetitif saat ini. Berbagai cara dilakukan untuk menumbuhkan loyalitas konsumen. Salah satu cara yang digunakan oleh PT. TELKOM adalah dengan berusaha menawarkan atribut produk TELKOMFlexi yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Jika dalam setiap pembeliannya akan suatu produk dengan merek tertentu konsumen terus menerus memperoleh kepuasan, maka konsumen akan semakin menggemari dan mempunyai preferensi terhadap merek tersebut. Preferensi terhadap suatu merek merupakan salah satu identifikasi dari terbentuknya loyalitas terhadap merek tersebut. Dengan terciptanya preferensi konsumen terhadap suatu merek berarti keuntungan jangka panjang bagi perusahaan yang menghasilkan merek tersebut.
Dengan memperhatikan berbagai permasalahan sebagaimana diuraikan di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai bagaimana tanggapan konsumen terhadap atribut-atribut dan tarif TELKOMFlexi untuk mengetahui efektivitasnya saat ini dan juga untuk mengukur seberapa jauh atribut produk tersebut telah berhasil mencapai tujuannya, yaitu membentuk loyalitas konsumen terhadap produk TELKOMFlexi di wilayah Kandatel Bandung Pusat.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka penulis mengidentifikasikan masalah-masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana persepsi konsumen ( responden ) atas atribut-atribut yang dimiliki TELKOMFlexi di wilayah Bandung Pusat
2. Bagaimana tingkat loyalitas konsumen terhadap produk TELKOMFlexi
3. Seberapa besar hubungan persepsi konsumen atas atribut produk TELKOMFlexi dengan loyalitas di wilayah Bandung Pusat
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan informasi yang dibutuhkan sebagai bahan masukan dalam penyusunan skripsi sebagai salah satu syarat mencapai gelar sarjana.
Adapun tujuan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Menganalisa persepsi konsumen ( responden ) atas atribut-atribut TELKOMFlexi di wilayah Bandung Pusat
2. Menganalisa tingkat loyalitas konsumen terhadap produk TELKOMFlexi
3. Menganalisa seberapa besar hubungan persepsi konsumen atas atribut-atribut TELKOMFlexi dengan loyalitas di wilayah Bandung Pusat
1.4 Kegunaan Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan akan dapat berguna untuk berbagai kepentingan terutama yang terkait dengan hubungan atribut produk dengan loyalitas konsumen, dengan manfaat antara lain sebagai berikut :
1. Bagi Penulis
Di samping sebagai bahan penyusunan skripsi juga bermanfaat langsung dalam memperluas pengetahuan mengenai atribut produk dan loyalitas konsumen
2. Bagi Akademis
Diharapkan dapat menambah wawasan bagi mahasiswa Universitas Widyatama mengenai loyalitas konsumen dan sebagai bahan referensi untuk penelitian lebih lanjut.
3. Bagi Praktisi
Dapat dijadikan sebagai bahan masukan maupun pertimbangan bagi praktisi atau perusahaan dalam menciptakan atribut produk.
1.5 Kerangka Pemikiran
Perkembangan dalam dunia usaha memaksa perusahaan-perusahaan untuk mengerahkan kemampuannya dalam memasarkan produk maupun jasanya. Dengan banyaknya barang dan jasa yang berada di pasar mengakibatkan persaingan yang ketat diantara perusahaan. Setiap perusahaan dituntut harus dapat memiliki competitive advantage ( keunggulan kompetitif ) yaitu keunggulan yang dimiliki suatu perusahaan dibandingkan dengan pesaing yang bersumber dari dua hal pokok, yaitu diferensiasi dan kepemimpinan biaya (cost leadership) (Porter,1998;3).
Untuk dapat bersaing perlu pemasaran yang baik. Pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi, serta penyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran-sasaran individu dan organisasi ( Kotler, 2000;9 ). Para pemasar menggunakan sejumlah alat untuk mendapatkan tanggapan yang diinginkan dari pasar sasaran mereka. Alat-alat itu membentuk suatu “bauran pemasaran (marketing mix )” atau “4P”, yaitu : Product (produk), Price (harga), Place (tempat atau distribusi) dan Promotion (promosi).
Definisi produk yang dikemukakan oleh Kotler ( 2000 ; 448 ) sebagai berikut:
Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke suatu pasar untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan
Produk merupakan variabel pemasaran yang paling mendasar dari bauran pemasaran karena produk merupakan penawaran nyata oleh perusahaan pada pasar. Keputusan-keputusan yang berkaitan dengan variabel produk dapat dijadikan instrumen oleh perusahaan dalam kegiatan pemasaran produknya untuk mengkomunikasikan variabel produk yang sesuai di mata konsumen, sehingga akan menimbulkan persepsi tertentu pada konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut, yang diinginkan oleh produsen dan sesuai dengan yang diharapkan konsumen. Salah satu keputusan variabel produk yang penting adalah keputusan mengenai atribut produk, yaitu kualitas produk (product quality), fitur produk (product features), dan desain (design) (Kotler dan Amstrong,2001;347).
Dalam melaksanakan suatu proses pengambilan keputusan pembelian, biasanya konsumen akan melalui beberapa tahapan, yaitu : tahap pengenalan, kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan perilaku setelah pembelian.
Kotler (2000;204) memberikan rincian proses pengambilan keputusan pembelian dalam lima proses, yaitu :
Pengenalan Masalah
Proses membeli dimulai dengan pengenalan masalah atau kebutuhan. Konsumen menyadari suatu perbedaan antara keadaan sebenarnya dan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan itu dapat di gerakkan oleh rangsangan dari dalam maupun luar dirinya.
Para penjual atau pemasar perlu mengenal faktor-faktor yang dapat mengerakkan kebutuhan atau minat konsumen. Para pemasar perlu meneliti konsumen untuk memperoleh jawaban apakah kebutuhan yang dirasakan atau masalah yang timbul, apa yang menyebabkan semua itu muncul dan bagaimana kebutuhan atau masalah itu menyebabkan seseorang mencari produk tertentu.
Pencarian
Setelah mengenal kebutuhan yang dihadapinya, konsumen akan mencari informasi lebih lanjut atau mungkin tidak. Jika dorongan konsumen adalah kuat dan objek yang dapat memuaskan kebutuhan itu tersedia, konsumen akan menjadi objek itu. Jika tidak, kebutuhan itu akan mengendap dalam ingatannya. Konsumen mungkin tidak berusaha memperoleh informasi lebih lanjut atau sangat aktif mencari informasi sehubungan dengan kebutuhan itu.
Evaluasi Alternatif
Setelah melalui tahap pencarian informasi, konsumen akan menghadapi sejumlah merek yang dapat dipilih. Pemilihan alternatif ini mulai dari suatu proses evaluasi alternatif tertentu. Sejumlah konsep tertentu akan membantu memahami proses ini yaitu :
• Konsumen akan berusaha untuk memuaskan kebutuhan mereka.
• Konsumen akan mencari manfaat dari suatu produk.
• Konsumen biasanya membangun seperangkat merek sesuai dengan ciri-ciri dan karakteristiknya.
• Konsumen diasumsikan memiliki sejumlah fungsi kegunaan atas setiap ciri. Fungsi kegunaan menggambarkan bagaimana konsumen mengharapkan kepuasan dari suatu produk yang bervariasi pada tingkat yang berbeda untuk masing-masing ciri.
• Terbentuknya sikap konsumen terhadap beberapa pilihan merek melalui prosedur penilaian konsumen ternyata menerapkan prosedur penilaian yang berbeda untuk membuat suatu pilihan diantara sekian banyak ciri-ciri objek.
Keputusan Pembelian
Tahap penilaian keputusan menyebabkan konsumen membentuk pilihan mereka diantara merek yang tergabung dalam perangkat pilihan. Konsumen mungkin juga membentuk suatu pilihan untuk membeli dan cenderung membeli merek yang disukainya.
Perilaku Pasca Pembelian
Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Konsumen juga akan melakukan kegiatan membeli produk, yang akan menarik bagi para pemasar. Tugas para pemasar belum selesai setelah produk dibeli oleh konsumen, namun akan terus berlangsung hingga periode waktu pasca pembelian.
Dalam kenyataannya kelima tahapan diatas tidak selalu terjadi, karena ada perilaku pembeli yang tanpa melewati tahapan-tahapan tersebut, melompatinya, atau menjalaninya tanpa urutan sesuai. Konsumen yang melewati kelima tahapan dalam proses pengambilan keputusan secara lengkap, biasanya adalah konsumen yang belum mempunyai pengalaman membeli atau menggunakan atau dengan kata lain, konsumen merupakan first time buyer.
Setelah melakukan pembelian pertamanya konsumen akan menilai apakah produk yang telah ia beli memuaskan atau tidak. Penilaian ini akan mempengaruhi perilaku pasca pembeliannya. Jika konsumen merasa puas atas produk yang dibelinya, maka kemungkinan besar ia akan melakukan pembelian ulang (repeat buying) atas produk yang sama. Suatu repeat buying yang selalu memuaskan dan di anggap mempunyai nilai tambah oleh si konsumen akan membuat konsumen semakin menggemari dan mempunyai preferensi terhadap produk tersebut, dan ini adalah ciri-ciri telah tumbuhnya kesetiaan merek konsumen terhadap merek produk tersebut.
Arti preferensi konsumen disini adalah sikap konsumen memilih suatu produk dari merek tertentu, dan bukannya merek lainnya, sebagai akibat dari adanya kepuasan menggunakan merek tersebut di masa lalu. Seorang repeat buyer dalam proses pengambilan keputusannya tidak lagi perlu melewati kelima tahapan secara lengkap. Dalam proses pengambilan keputusannya, setelah ia menyadari akan adanya suatu kebutuhan maka ia akan langsung membuat keputusan pembelian atas suatu produk tanpa harus melewati pencarian informasi dan pengevaluasian alternatif.
Definisi Atribut produk menurut Tjiptono (2002 ; 103) adalah sebagai berikut:
Atribut produk adalah unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Atribut produk meliputi merek, kemasan, jaminan (garansi), pelayanan dan sebagainya
Atribut-atribut produk tersebut sangat berpengaruh terhadap reaksi pelanggan akan suatu produk. Atribut produk merupakan salah satu faktor produk yang menentukan tinggi rendahnya nilai dari suatu produk yang dirancang oleh perusahaan.
Sementara itu Stores ( Kaplan and Norton,1996;78 ), menyatakan bahwa “product attributes for its consumer value propositions: price, fashion, and quality”, yang artinya atribut produk dapat mengidentifikasikan tiga tujuan sebagai atribut utama untuk proposisi nilai pelanggan, yaitu harga, model atau desain, dan mutu atau kualitas.
Atribut produk antara satu jenis produk dengan jenis produk lainnya mungkin akan berbeda, karena atribut produk juga dapat memberikan suatu ciri tertentu dari suatu produk.
Loyalitas menurut Tjiptono (2000;111) adalah sebagai berikut :
Loyalitas adalah situasi dimana konsumen bersikap positif terhadap produk/produsen (penyedia jasa) diikuti pola pembelian ulang yang konsisten
Dengan memahami perilaku pembelian dan proses keputusan pembelian konsumennya, selain mengetahui benar-benar kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut, perusahaan dapat menciptakan konsumen yang loyal. Loyalitas konsumen sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang. Loyalitas dapat juga dianggap sebagai suatu kondisi yang berhubungan dengan rentang waktu dalam melakukan pembelian tidak lebih dari dua kali dalam mempertimbangkannya. Unit keputusan dapat diartikan sebagai suatu keputusan pembelian dapat dilakukan oleh lebih dari satu orang (Griffin,1995;4).
Jadi loyalitas diartikan sebagai perilaku pembelian non random konsumen yang didasarkan pada unit pengambilan keputusan. Non random disini berarti konsumen melakukan pembelian secara rutin. Selain melakukan pembelian ulang dan rutin, konsumen yang loyal juga melakukan pembelian atas produk perusahaan yang lain dan menjadi sarana promosi yang efektif yaitu mengajak orang lain untuk mengkonsumsi produk ini melalui komunikasi dari mulut-ke-mulut ( word of mouth ).
Loyalitas tidak terjadi dengan sendirinya. Loyalitas di bentuk dengan melalui beberapa tahapan ( Griffin,1995;36 ). Tahap pertama adalah konsumen sebagai suspect yaitu, konsumen yang mempunyai kebutuhan akan suatu produk namun tidak mengetahui keberadaan produk yang di tawarkan perusahaan. Perusahaan harus melakukan promosi yang gencar agar tercipta brand awareness dari konsumen terhadap produk perusahaan.
Tahap kedua adalah prospect yaitu, konsumen telah mengetahui keberadaan akan produk ini dan mempunyai kebutuhan akan produk tersebut. First time buyer adalah konsumen yang melakukan pembelian pertama kali. Apabila ia puas pada pembelian pertamanya ia akan melakukan pembelian ulang (repeat buyer). Konsumen yang melakukan pembelian berulang kali dan mungkin membeli produk lain dari perusahaan yang sama bisa di anggap sebagai clients. Pada akhirnya konsumen tersebut akan menjadi advocates dan menjadi partner bagi perusahaan.